RSS

TENTANG ORANG KECIL YANG DIBERDAYAKAN

20 Jan

Sore itu beberapa org tetangga sedang sibuk bergiat, entah bergiat
apa. sepertinya bukan kegiatan seperti yang mereka lakukan sehari-
hari. keseharian mereka berjaulan jamu gendong.

sekitar 5 sampai 10 orang paruh baya -yang sering kupanggil ‘bude’-
sedang menyiapkan jamu tradisional. spontan aku bertanya pada mereka;
“mau bikin apa bude?kok banyak banget bikin jamunya?” tanyaku pada
mereka. karena tak lazim mereka membuat jamu bersama2.

dan satu persatu bude-bude itu menjawab;

“besok, ada promosi dijalan thamrin, kita oleh air mancur disuruh
ikut, buat promosi, disuruh pake baju kebaya sama disuruh buat jamu”

jawab mereka dengan semangat.

rata-rata umur mereka antara 40 sampai 50 tahun, dan kebanyakan aku
panggil bude, mereka tinggal disekitaran rumahku dibilangan kuningan.
mereka semangat, polos dan bagiku pejuang kartini sesungguhnya.

pagi2 sekali mereka berangkat, pukul 5.30 pagi mereka sudah siap
dengan baju seragam kebaya mereka (karena diinstruksikan oleh
ibu….) tak lama kemudian mereka berkordinasi dan masuk kemetro mini
yang sudah disiapkan.

tapi apa yang terjadi bukanlah seperti apa yang mereka
bayangkan…sekonyong-konyong mereka digabungkan dalam barisan
demontrasi, mereka kaget, tersentak dan tidak bisa berbuat apa2.
mereka tidak tahu apa-apa soal RUU Pornografi, mereka tidak tahu
menahu soal perang opini mengenai RUU ini. yang mereka tahu mereka
cuma disuruh bikin jamu, pake kebaya dan datang kemonas, tentunya
dengan diiming-imingi sejumlah rupiah.

‘busyeeet’…tak tega rasanya melihat orang-orang tua itu mengeluh,
mereka berjalan kaki dari monas ke HI dan berputar-putar manjadi
objek penderita dan diperalat untuk mengakomodir kepentingan kelompok.

‘ampuuuun’…apa yang terjadi dengan orang2 dinegri
ini…memanfaatkan keringat orang hanya untuk kepentingan politis
semata, wahai bapak…ibu…yang memanfaatkan orang2 kecil ini atas
nama budaya…kasihani mereka, mereka berjalan, tertatih…membawa
beban jamu yang mereka kira diperuntukkan untuk promosi…dipaksakan
untuk berkata : “TOLAK” apapun alasannya ini tidak benar.

alamaaak…ada apa dengan negeri ini jika hanya untuk kepentingan
kelompok segala sesuatunya dilakukan, mesti menghalalkan segala cara.
tak tega rasanya melihat wajah bude2ku yang memerah dan keletihan.
dan iming2 uang itupun tak kunjung nampak. bersyukur mereka karena
salah satu putri Gus Dur memberikan meraka Rp. 50.000 untuk satu
orang. keletihan mereka sedikit sirna.

maafkan bude2ku…jika engkau telah diberdayakan sangat kotor -aku
pikir- oleh orang2 yang ingin membuat opini publik. tak tega rasanya
kartini2 itu dianiaya didepan mataku…sore itu aku geram…aku
marah…dan menyayangkan keadaan ini semua.

tak hanya bude2ku yang di’kibuli’…pakde pakde ku yang hobi
memainkan musik tradisional campur sari sama nasibnya. mereka
didaulat hadir untuk meramaikan promosi jamu bude2ku. tak ada pikiran
diawang2 pikiran mereka untuk demo anti RUU, yang meraka tahu, taruh
instrumen musik dimobil pick up, main musik untuk menyemarakkan
promosi jamu bude2ku. itu saja, tak ada gambaran ttg RUU.

‘ora gawe wareg wae do ribut’ kata salah seoarang pak de. (red: ga
bikin kenyang aja ko pada diributin)

pak de dan budeku dihadirkan dan dipaksakan seolah beropini tolak
RUU, padahal mereka tidak tahu apa2. keji! pembohongan dan pembodohan
publik.

bagaimana dengan yang lain? yang katanya mengakuisisi dari seluruh
indonesia. wah…ga tau deh…ga usah jauh2, yang pasti bude dan
pakde saja yang kutahu. bude dan pakdeku sudah diperalat, karena
mereka ada disekitarku…

KASIHAN BANGSA INI…
KASIHAN BUDEKU…
KASIHAN PAKDEKU…

*cerita ini bukan fiktif, bukan opini, bukan karangan, bukan rekaan,
bukan justifikasi, namun ini semua terjadi. kurang percaya, atau
ingin menyanggah…???silakan hubungi : [EMAIL PROTECTED] (saya
akan antar anda langsung kepara bude dan pakde ku yang teraniaya itu) TENTANG ORANG KECIL YANG DIBERDAYAKAN

sore itu beberapa org tetangga sedang sibuk bergiat, entah bergiat
apa. sepertinya bukan kegiatan seperti yang mereka lakukan sehari-
hari. keseharian mereka berjaulan jamu gendong.

sekitar 5 sampai 10 orang paruh baya -yang sering kupanggil ‘bude’-
sedang menyiapkan jamu tradisional. spontan aku bertanya pada mereka;
“mau bikin apa bude?kok banyak banget bikin jamunya?” tanyaku pada
mereka. karena tak lazim mereka membuat jamu bersama2.

dan satu persatu bude-bude itu menjawab;

“besok, ada promosi dijalan thamrin, kita oleh air mancur disuruh
ikut, buat promosi, disuruh pake baju kebaya sama disuruh buat jamu”

jawab mereka dengan semangat.

rata-rata umur mereka antara 40 sampai 50 tahun, dan kebanyakan aku
panggil bude, mereka tinggal disekitaran rumahku dibilangan kuningan.
mereka semangat, polos dan bagiku pejuang kartini sesungguhnya.

pagi2 sekali mereka berangkat, pukul 5.30 pagi mereka sudah siap
dengan baju seragam kebaya mereka (karena diinstruksikan oleh
ibu….) tak lama kemudian mereka berkordinasi dan masuk kemetro mini
yang sudah disiapkan.

tapi apa yang terjadi bukanlah seperti apa yang mereka
bayangkan…sekonyong-konyong mereka digabungkan dalam barisan
demontrasi, mereka kaget, tersentak dan tidak bisa berbuat apa2.
mereka tidak tahu apa-apa soal RUU Pornografi, mereka tidak tahu
menahu soal perang opini mengenai RUU ini. yang mereka tahu mereka
cuma disuruh bikin jamu, pake kebaya dan datang kemonas, tentunya
dengan diiming-imingi sejumlah rupiah.

‘busyeeet’…tak tega rasanya melihat orang-orang tua itu mengeluh,
mereka berjalan kaki dari monas ke HI dan berputar-putar manjadi
objek penderita dan diperalat untuk mengakomodir kepentingan kelompok.

‘ampuuuun’…apa yang terjadi dengan orang2 dinegri
ini…memanfaatkan keringat orang hanya untuk kepentingan politis
semata, wahai bapak…ibu…yang memanfaatkan orang2 kecil ini atas
nama budaya…kasihani mereka, mereka berjalan, tertatih…membawa
beban jamu yang mereka kira diperuntukkan untuk promosi…dipaksakan
untuk berkata : “TOLAK” apapun alasannya ini tidak benar.

alamaaak…ada apa dengan negeri ini jika hanya untuk kepentingan
kelompok segala sesuatunya dilakukan, mesti menghalalkan segala cara.
tak tega rasanya melihat wajah bude2ku yang memerah dan keletihan.
dan iming2 uang itupun tak kunjung nampak. bersyukur mereka karena
salah satu putri Gus Dur memberikan meraka Rp. 50.000 untuk satu
orang. keletihan mereka sedikit sirna.

maafkan bude2ku…jika engkau telah diberdayakan sangat kotor -aku
pikir- oleh orang2 yang ingin membuat opini publik. tak tega rasanya
kartini2 itu dianiaya didepan mataku…sore itu aku geram…aku
marah…dan menyayangkan keadaan ini semua.

tak hanya bude2ku yang di’kibuli’…pakde pakde ku yang hobi
memainkan musik tradisional campur sari sama nasibnya. mereka
didaulat hadir untuk meramaikan promosi jamu bude2ku. tak ada pikiran
diawang2 pikiran mereka untuk demo anti RUU, yang meraka tahu, taruh
instrumen musik dimobil pick up, main musik untuk menyemarakkan
promosi jamu bude2ku. itu saja, tak ada gambaran ttg RUU.

‘ora gawe wareg wae do ribut’ kata salah seoarang pak de. (red: ga
bikin kenyang aja ko pada diributin)

pak de dan budeku dihadirkan dan dipaksakan seolah beropini tolak
RUU, padahal mereka tidak tahu apa2. keji! pembohongan dan pembodohan
publik.

bagaimana dengan yang lain? yang katanya mengakuisisi dari seluruh
indonesia. wah…ga tau deh…ga usah jauh2, yang pasti bude dan
pakde saja yang kutahu. bude dan pakdeku sudah diperalat, karena
mereka ada disekitarku…

KASIHAN BANGSA INI…
KASIHAN BUDEKU…
KASIHAN PAKDEKU…

*cerita ini bukan fiktif, bukan opini, bukan karangan, bukan rekaan,
bukan justifikasi, namun ini semua terjadi. kurang percaya, atau
ingin menyanggah…???silakan hubungi : [EMAIL PROTECTED] (saya
akan antar anda langsung kepara bude dan pakde ku yang teraniaya itu) TENTANG ORANG KECIL YANG DIBERDAYAKAN

sore itu beberapa org tetangga sedang sibuk bergiat, entah bergiat
apa. sepertinya bukan kegiatan seperti yang mereka lakukan sehari-
hari. keseharian mereka berjaulan jamu gendong.

sekitar 5 sampai 10 orang paruh baya -yang sering kupanggil ‘bude’-
sedang menyiapkan jamu tradisional. spontan aku bertanya pada mereka;
“mau bikin apa bude?kok banyak banget bikin jamunya?” tanyaku pada
mereka. karena tak lazim mereka membuat jamu bersama2.

dan satu persatu bude-bude itu menjawab;

“besok, ada promosi dijalan thamrin, kita oleh air mancur disuruh
ikut, buat promosi, disuruh pake baju kebaya sama disuruh buat jamu”

jawab mereka dengan semangat.

rata-rata umur mereka antara 40 sampai 50 tahun, dan kebanyakan aku
panggil bude, mereka tinggal disekitaran rumahku dibilangan kuningan.
mereka semangat, polos dan bagiku pejuang kartini sesungguhnya.

pagi2 sekali mereka berangkat, pukul 5.30 pagi mereka sudah siap
dengan baju seragam kebaya mereka (karena diinstruksikan oleh
ibu….) tak lama kemudian mereka berkordinasi dan masuk kemetro mini
yang sudah disiapkan.

tapi apa yang terjadi bukanlah seperti apa yang mereka
bayangkan…sekonyong-konyong mereka digabungkan dalam barisan
demontrasi, mereka kaget, tersentak dan tidak bisa berbuat apa2.
mereka tidak tahu apa-apa soal RUU Pornografi, mereka tidak tahu
menahu soal perang opini mengenai RUU ini. yang mereka tahu mereka
cuma disuruh bikin jamu, pake kebaya dan datang kemonas, tentunya
dengan diiming-imingi sejumlah rupiah.

‘busyeeet’…tak tega rasanya melihat orang-orang tua itu mengeluh,
mereka berjalan kaki dari monas ke HI dan berputar-putar manjadi
objek penderita dan diperalat untuk mengakomodir kepentingan kelompok.

‘ampuuuun’…apa yang terjadi dengan orang2 dinegri
ini…memanfaatkan keringat orang hanya untuk kepentingan politis
semata, wahai bapak…ibu…yang memanfaatkan orang2 kecil ini atas
nama budaya…kasihani mereka, mereka berjalan, tertatih…membawa
beban jamu yang mereka kira diperuntukkan untuk promosi…dipaksakan
untuk berkata : “TOLAK” apapun alasannya ini tidak benar.

alamaaak…ada apa dengan negeri ini jika hanya untuk kepentingan
kelompok segala sesuatunya dilakukan, mesti menghalalkan segala cara.
tak tega rasanya melihat wajah bude2ku yang memerah dan keletihan.
dan iming2 uang itupun tak kunjung nampak. bersyukur mereka karena
salah satu putri Gus Dur memberikan meraka Rp. 50.000 untuk satu
orang. keletihan mereka sedikit sirna.

maafkan bude2ku…jika engkau telah diberdayakan sangat kotor -aku
pikir- oleh orang2 yang ingin membuat opini publik. tak tega rasanya
kartini2 itu dianiaya didepan mataku…sore itu aku geram…aku
marah…dan menyayangkan keadaan ini semua.

tak hanya bude2ku yang di’kibuli’…pakde pakde ku yang hobi
memainkan musik tradisional campur sari sama nasibnya. mereka
didaulat hadir untuk meramaikan promosi jamu bude2ku. tak ada pikiran
diawang2 pikiran mereka untuk demo anti RUU, yang meraka tahu, taruh
instrumen musik dimobil pick up, main musik untuk menyemarakkan
promosi jamu bude2ku. itu saja, tak ada gambaran ttg RUU.

‘ora gawe wareg wae do ribut’ kata salah seoarang pak de. (red: ga
bikin kenyang aja ko pada diributin)

pak de dan budeku dihadirkan dan dipaksakan seolah beropini tolak
RUU, padahal mereka tidak tahu apa2. keji! pembohongan dan pembodohan
publik.

bagaimana dengan yang lain? yang katanya mengakuisisi dari seluruh
indonesia. wah…ga tau deh…ga usah jauh2, yang pasti bude dan
pakde saja yang kutahu. bude dan pakdeku sudah diperalat, karena
mereka ada disekitarku…

KASIHAN BANGSA INI…
KASIHAN BUDEKU…
KASIHAN PAKDEKU…

 
1 Comment

Posted by on January 20, 2007 in Bantenku Sayang

 

One response to “TENTANG ORANG KECIL YANG DIBERDAYAKAN

  1. herizal

    April 20, 2007 at 1:40 pm

    buka juga blog gw yang satunya
    http://www.my.opera.com/seputarbanten

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: