RSS

10 Komoditas Pertanian Tak Siap Hadapi AFTA

25 Apr

Jakarta, Kompas – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mengidentifikasi setidaknya terdapat 19 komoditas pertanian Indonesia yang tidak siap menghadapi pasar ASEAN Free Trade Area (AFTA) yang akan mulai berlaku tahun 2003. Sepuluh komoditas itu masih memerlukan perlindungan antara lima sampai sepuluh tahun agar kompetitif dan produktivitasnya meningkat.

“HKTI menyatakan sejumlah komoditas tidak siap menghadapi AFTA yang dalam beberapa minggu lagi kita masuki. Pemerintah tidak bisa membiarkan masalah ini, jangan coba-coba kalau tidak ingin masuk jurang kehancuran,” kata Ketua Umum HKTI Siswono Yudo Husodo dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (12/11).

HKTI menyebutkan, 10 komoditas yang dimaksud adalah beras, gula, kedelai, tembakau, jagung, buah-buahan, bawang merah, bawang putih, benih, dan paham ayam. Semua produk itu tidak mampu bersaing, baik di pasar internasional maupun pasar domestik. Rata-rata produk itu masih membutuhkan perlindungan antara 5 sampai 10 tahun.

“Kami tidak minta perlindungan yang berlebihan, namun pemerintah tidak bisa tinggal diam kalau tidak ingin pertanian hancur,” kata Siswono didampingi sejumlah pengurus HKTI lainnya. Untuk itu, pihaknya meminta agar pemerintah meneliti satu per satu produk pertanian yang masuk dalam kategori siap dan tidak siap menghadapi AFTA secara lebih detail.

HKTI menyebutkan daya saing sejumlah produk itu sangat lemah dibandingkan produk sejenis dari negara lain karena lahan pengusahaan petani Indonesia sangat sempit. Di Jawa, misalnya, sekitar 0,3 hektar per kepala keluarga sehingga produktivitas petani menjadi rendah.

Di negara lain, untuk produk sejenis selain lahan per petani lebih luas, mereka juga mendapat subsidi dari pemerintah seperti subsidi ekspor, tarif impor yang tinggi, kuota tarif impor, dan kredit ekspor. Contohnya, Cina mengenakan kuota impor beras dan tarif impor beras 180 persen, sedangkan Thailand memberi subsidi kredit ekspor untuk beras.

“Kemampuan bersaing produk Indonesia itu tidak akan pernah meningkat tanpa adanya perlindungan sementara dan tindakan berupa kebijakan dan bimbingan yang intensif untuk meningkatkan kekuatan daya saing,” katanya.

Siswono mengatakan, tanpa adanya pasar bebas, Indonesia sudah banyak terserang oleh produk dari luar negeri. Hal itu diketahui dari impor produk pertanian dalam jumlah yang besar (lihat tabel-Red).

Sementara itu komoditas yang bisa bersaing di pasar internasional seperti komoditas perkebunan, pasar ekspornya malah direbut oleh negara pengekspor lain. Pasar teh Indonesia di Inggris diambil oleh India dan Argentina, sedangkan pasar teh Indonesia di Mesir dan Amerika Serikat diambil alih oleh Kenya dan Argentina.

“Kekalahan Indonesia di pasar ekspor itu mencerminkan rendahnya kemampuan pemerintah mengamankan sekaligus mengoptimalkan potensi pasar dan pemasaran produk pertanian di pasar internasional,” kata Siswono.

Permintaan pasar dunia tidak diikuti dengan peningkatan produksi, sehingga negara-negara yang dulu belajar dari Indonesia, produksinya sekarang melampaui Indonesia. Saat ini produksi kakao Pantai Gading mencapai 1,16 juta ton, sementara Indonesia hanya 471.000 ton. (MAR)

RATA-RATA IMPOR PRODUK PERTANIAN

(Tahun 1996-2001)

Produk Jumlah
Beras 2.000.000 ton
Jagung 1.000.000 ton
Kedelai 1.000.000 ton
Kacang tanah 800.000 ton
Kacang hijau 300.000 ton
Gaplek 900.000 ton
Gandum 4.300.000 ton
Gula 1.600.000 ton
Buah-buahan 167.000 ton
Sayuran 256.000 ton

Sumber : HKTI

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: